Silaturrahmi Pimpinan Tazakka dan Sekjend FPA KH. Anang Rikza Masyhadi, MA

Mawaridussalam (26/9/19).  Pondok Pesantren Mawaridussalam mendapat kunjungan dari Pimpinan Pesantren Modern Tazakka, Batang Jawa Tengah, KH. Anang Rikza Masyhadi, MA. Selain menjadi pimpinan pesantren beliau juga menjabat sebagai sekretaris jendral (sekjend) Forum Pesantren Alumni (FPA) Gontor. Beliau hadir dalam rangka silaturahmi dengan keluarga besar Pondok Pesantren Mawaridussalam.

Acara silaturrahmi ini diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Alquran. Saat memberikan sambutan, Buya Drs. KH. Syahid Marqum S.Pdi, MM menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah Swt. atas kunjungan tamu istimewa ini, dan menyampaikan bahwa pesantren Tazakka adalah saudara pesantren Mawaridussalam. Kemudian Buya menambahkan bahwa seluruh santri/wati Mawaridussalam termasuk bagian dari anak KH. Anang dan keluarga besar Mawaridussalam adalah keluarga beliau.

Saat mengawali tausiyahnya, KH. Anang Rikza Masyhadi, MA mengajak seluruh hadirin untuk mengucapkan rasa syukur atas disahkannya UU Pesantren. Dengan UU tersebut maka pesantren sudah menjadi sistem pendidikan di Indonesia, tidak lagi dipandang sebelah mata seperti puluhan tahun sebelumnya. Dengan UU ini, maka pesantren memiliki hak-hak yang sama dengan sekolah lain, baik dari segi anggaran dan hal lainnya.

Kemudian beliau menjelaskan bahwa saat ini jumlah pondok alumni Gontor yang sudah masuk dalam data FPA adalah 398 pesantren. Dari jumlah ini, 28 pesantren sudah memiliki perguruan tinggi. Jika ditambah dengan pesantren cucu, maka jumlahnya adalah 1.100 pesantren. Jumlah santri dari seluruh pesantren ini berkisar pada 400.000 sampai 500.000 orang (belum termasuk pesantren Salafiyah). Jumlah santri yang banyak ini merupakan aset yang sangat mahal untuk kepemimpinan bangsa dan negara kedepannya.

Beliau mengakhiri tausiyahnya dengan menyampaikan bahwa orang sukses di Amerika disebabkan karena mereka mampu menahan diri dan mengendalikannya. Maka santri selama berada di pesantren telah mampu mengendalikan dirinya dari HP, TV, Kendaraan dan lain sebagainya selama 6 tahun, maka santri tentu lebih berhak untuk sukses.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *